Sudikah kau berbagi pundak denganku?
Seperti hujan yang setia
Pada tanah yang merindu
Sudikah kau tetap menyapaku?
Meski jalan yang ditempuh kadang berbeda
Sebagai konsekuensi kemanusiaan kita
Tujuan kita masih sama
Hanya cara yang mungkin berbeda
Sudut pandang kita masih sama
Tapi wawasan kita yang membeda
Kau kata aku menjauh
Kau bilang aku mengasing
Tahukah kau rasanya menjadi asing?
Tahukah kau rasanya dijauhkan?
Kejam adalah ketika kau disingkirkan
Sementara dulu kau memperjuangkan
Lalu kau bilang aku harus bertahan?
Coba dulu kau rasakan...
Kau bilang persaudaraan
Lalu di mana kau saat saudaramu tengah terjepit?
Kau bilang soliditas
Lalu di mana kau saat nasibku nyaris kandas?
Aku bicara tentang seorang di pinggiran jurang
Jogja, 24 Oktober 2016
Senin, 24 Oktober 2016
Selasa, 06 September 2016
Sepenggal Inspirasi Tentang Pencarian Sebuah Arti
Dunia menawarkan begitu banyak ruang kontribusi. Sebagaimana tujuan dari penciptaan kita sebagai manusia, salah satunya adalah untuk menjadi pemimpin di muka bumi yang selanjutnya memiliki peran untuk memakmurkan bumi. Ruang kontribusi yang begitu luas, wilayah atau cakupan kepemimpinan yang meliputi banyak aspek juga menuntut kita untuk menentukan peran apa yang akan kita ambil dalam rangka berkontribusi untuk tujuan tersebut. Dunia kontribusi adalah persoalan bermain peran. Menariknya, kita tidak pernah tahu bahkan sejak kita dilahirkan, apa peran spesifik yang harus kita masuki, yang harus kita mainkan. Kita harus mencari untuk kemudian menemukan, menemukan, untuk kemudian memilih dan mengambil tanggungjawab lebih.
Seperti kemarin, saya menghabiskan beberapa waktu untuk relaksasi pikiran dan sedikit bernostalgia. Saya punya koleksi anime, yang bagi saya cukup menarik untuk disimak ketika di masa kecil dulu. Apa indikator menariknya, sederhana saja, membekas. Salah satu anime yang membekas bagi saya adalah Digimon, yang meskipun saya hanya mengikuti sampai Digimon 2, dan sekarang Digimon Tri; saya tidak mengikuti serial digimon yang lain karena bagi saya ceritanya sudah ngawur dan terlalu dipaksakan.
Awalnya tidak terpikir untuk mendapat hikmah atau inspirasi dari serial anime tersebut, namun nyatanya berbeda. Di Digimon 2 saya menemukan ada satu tokoh yang bernama Blackwargreymon, yang dia dicipta dari menara kegelapan yang notabene bukanlah makhluk yang bernyawa. Ia hanyalah mutant yang tercipta tanpa hati dan perasaan. Namun, Blackwargreymon berbeda. Entah tersebab sebuah kecelakaan atau apa, tapi dia terlahir dengan perasaan; sedih, kesepian, dan menderita. Dengan kekuatannya yang besar itulah kemudian dia mulai mencari, arti dari kehadirannya di dunia. Dia menyadari bahwa dia dilahirkan dari sebuah menara kegelapan yang seharusnya tak berperasaan, hanya tahu bagaimana bertarung dan menghancurkan, tapi ya, sekali lagi, dia berbeda. Dia mencari dengan segenap kekuatan. Dia tidak peduli lagi mana kawan mana lawan, dia hanya akan melawan siapapun yang berusaha menghalanginya untuk mendapatkan jawaban atas perasaannya, atas arti dari arti hadirnya di dunia. Hingga akhirnya, setelah melewati banyak dialog dan pertarungan, ia menemukan arti dari kehidupannya. Di tengah kondisinya yang sekarat karena serangan musuh, dia memutuskan untuk mengorbankan dirinya agar menjadi segel antara dunia nyata dan dunia digital. Blackwargreymon akhirnya menemukan arti hadirnya di dunia, di penghujung hidupnya. Dia menemukan ruang kontribusinya.
Blackwargreymon bukanlah tokoh utama dalam anime tersebut. Tapi saya mengambil inspirasi yang luar biasa dari tokoh itu, tentang sebuah pencarian ruang kontribusi, ambisi, dan penderitaan yang dia alami. Kesepian dan penderitaan yang dia alami justru membuat dia semakin kuat, dan semakin mencari. Hingga akhirnya dia mengorbankan dirinya untuk melindungi orang lain, yang dia maknai menjadi arti dari kehadirannya di dunia.
Selamat mencari, semoga kita segera menemukan ruang itu sebelum masa kontribusi itu berakhir...
Wates, 6 September 2016
Rabu, 17 Agustus 2016
Merdeka
Merdeka itu bebas, bebas dari penghambaan kepada selain Tuhan
Merdeka itu berkuasa, berkuasa atas diri dan pilihan hidup
Merdeka itu berdaulat, berdaulat atas ideologi dan sumber daya
Wates, 17 Agustus 2016
Merdeka itu berkuasa, berkuasa atas diri dan pilihan hidup
Merdeka itu berdaulat, berdaulat atas ideologi dan sumber daya
Wates, 17 Agustus 2016
Sabtu, 13 Agustus 2016
Agustus; Sebuah Tanya
Waktu. Satu kata sederhana yang menyimpan banyak makna. Kehadirannya misterius, begitu pula kepergiannya yang sering kali tak terasa. Waktu. Salah satu unsur kehidupan yang selalu taat pada titah Tuhannya. Tak pernah berhenti, tiada menunggu. Ia akan terus berputar dan bergerak maju dari awal menuju akhir, dari tiada menuju tiada. Waktu. Satu hal yang biasa namun menyimpan kekuatan besar.
Perguliran waktu telah sampai pada titik ini kembali. Pada bulan yang bagiku spesial, di antara waktu luar biasa yang telah Allah hadirkan dengan kejutan-kejutan indahnya. Sekarang sudah bulan Agustus. Waktu di mana aku bermula, meniti takdir dan menghitung waktu untuk kembali padaNya. Agustus pula yang menghantarkanku pada sebuah pertaruhan besar, kala itu. Begitulah aku memaknai Agustus. Dengan segala peristiwa manis dan pahit di dalamnya.
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan selanjutnya. Tidak terasa. Agustus ini adalah Agustus yang ke 24 dalam sejarah hidupku. Dengan segenap perubahan dan peristiwa di tiap tahunnya, entah takdir apalagi yang akan menghampiri pada Agustus kali ini. Peristiwa indah macam apa lagi yang sudah diatur semesta untuk makhluk kecil ini, di bulan Agustus yang ke 24.
Agustus, bagiku bukan sekedar hitungan bulan dalam kalender Masehi.
Tapi ia adalah sebuah tanya yang dinanti jawabnya.
Yogyakarta, 13 Agustus 2016
Sabtu, 06 Agustus 2016
Tiga Jam Lagi
Beterbangan kian kemari
Berkejaran ia berlari
Satu dua di antara pagi
Hadir penuhi takdir Ilahi
Embun pagi
Udara tipis
Dingin
Menanti hadir mentari
Anak manusia kan tetapkan janji
Atasnya, atas sebuah takdir
Berada pada temu yg sejati
Cinta sejati
Perjalanan yg panjang telah pada ujungnya
Pendam cinta dalam sepi
Simpan rasa dalam hati
Hingga tiba waktu yg dinanti
Sekira tiga jam lagi
Takdir kan tertunai
Janji kan tertuai
Menuju kebahagiaan hakiki
Madiun, 6 Agustus 2016
Tiga jam menuju akad sahabat
Berkejaran ia berlari
Satu dua di antara pagi
Hadir penuhi takdir Ilahi
Embun pagi
Udara tipis
Dingin
Menanti hadir mentari
Anak manusia kan tetapkan janji
Atasnya, atas sebuah takdir
Berada pada temu yg sejati
Cinta sejati
Perjalanan yg panjang telah pada ujungnya
Pendam cinta dalam sepi
Simpan rasa dalam hati
Hingga tiba waktu yg dinanti
Sekira tiga jam lagi
Takdir kan tertunai
Janji kan tertuai
Menuju kebahagiaan hakiki
Madiun, 6 Agustus 2016
Tiga jam menuju akad sahabat
Jumat, 29 Juli 2016
Paskibra
Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman selalu hadir dengan kejujuran. Saat kesakitan harus kita rasakan, jadilah ia menyakitkan, dan sebaliknya. Hingga rasa sakit atau bahagia itulah yang kemudian menjelma menjadi sebuah referensi satu fase kehidupan bilamana kita berhadapan dengan situasi yang nyaris serupa, meski tak sama. Dengan pengalaman itulah kita bisa belajar untuk tidak jatuh ke dalam lubang yang sama, ataupun meningkatkan capaian atas keberhasilan sebelumnya.
Pengalaman identik dengan ruang belajar. Di mana setiap orang akan punya ruang belajar masing-masing yang tentunya akan sangat membekas dan mempengaruhi karakter diri dan bagaimana ia berperan di dalam sebuah lingkungan. Seorang yang berpengalaman aktif di lembaga sosial, biasanya akan terlihat berbeda dalam bersikap atau memandang sesuatu dibandingkan dengan orang yang tak punya pengalaman di wilayah itu.
Begitu pula dengan saya. Hari ini, masih di Wates, saya didapuk oleh pihak sekolah untuk membantu pendampingan pelatihan TONTI (Pleton Inti) bagi siswa SMP N 1 Wates. Sedikit berbeda dengan sistem yang saya temui di Jawa Barat, di mana kegiatan pelatihan baris-berbaris, kedisiplinan, dan kepemimpinan bisa ditemui di kegiatan ekstrakurikuler Paskibra, di sini semua siswa dilibatkan dalam proses seleksi Tonti yang nantinya akan dilombakan, hanya saja kemudian tidak dibuat menjadi ekskul resmi. Kelanjutan dari anggota Tonti yang telah diseleksi ini biasanya akan mewujud menjadi semacam komunitas yang bernama DPT (Dewan Pelatih Tonti) yang di tahun selanjutnya akan bertugas melatih generasi penerusnya di Tonti.
Alhamdulillah, saya sudah tidak asing lagi dengan kegiatan baris-berbaris semacam ini karena sejak saya di bangku SMP sampai dengan lulus SMA saya aktif berkegiatan di Paskibra. Dari mulai menjadi anggota sampai menjadi pengurus. Di SMP dan SMA saya sempat menduduki posisi yang sama, sebagai Wakil Ketua, atau disebut Wakil Lurah dalam Paskibra di tempat kami, dan PLT Lurah ketika Ketua Paskibra pada waktu itu menjadi delegasi sekolah di Paskibraka tingkat Kabupaten. Saya sendiri sempat ikut seleksi, hanya saja gugur di seleksi akhir, konon karena tinggi badan saya kurang 1 cm.
Paskibra. Bagi saya ia bukanlah sekedar organisasi. Ia adalah rumah tempat saya bermula. Saya sangat mengakui banyak karakter diri dan sikap yang saya jalani saat ini tidak lepas dari tempaan yang saya dapatkan di paskibra. Bagaimana kami diajarkan untuk menjadi manusia yang tidak egois, karena kebersamaan dalam paskibra sangat dijunjung tinggi. Satu bahagia semua merasakannya, pun ketika satu sakit, semua akan merasakannya. Itulah mengapa persahabatan dan soliditas kami di paskibra cukup disorot pada waktu itu. Selain itu, disiplin jelas menjadi pegangan. Bagaimana kami ditempa untuk melaksanakan banyak hal tepat pada waktunya. Keterlambatan akan berbuah konsekuensi, entah itu berupa push-up atau hal yang lainnya. Keberanian dan daya tahan, itu pula yang saya dapatkan dari paskibra. Mungkin sekarang tamparan, tendangan, atau makian adalah hal yang tabu untuk dilaksanakan dalam pembelajaran apapun di sekolah. Dan alhamdulillah, dulu saya masih merasakannya. Namun, justru itulah bagi saya yang menumbuhkan daya tahan dan keberanian menghadapi berbagai situasi.
Sejujurnya saya ingin menulis banyak, hanya saja waktu yang tidak mencukupi.
Sederhananya, saya sedang ingin mengungkapkan kerinduan yang teramat dalam pada lingkungan itu, kebersamaan itu, disiplin yang tinggi itu, lapangan yang panas, lelah yang teramat, bahkan sampai sedikit kontak fisik tanda cinta dari senior kami.
Terima kasih, PASKIBRA,
Wates, 29 Juli 2016
Sabtu, 23 Juli 2016
Untuk Bangsa dan Cinta Kita
Langkah telah terhenti di tepian
Bertatap nanar, bermandikan kenangan
Gedung serasa rumah di hadapan
Sajian lengkap dengan kudapan
Di sana aku habiskan waktu
Mencoba belajar menjadi satu
Belajar mencintaimu
Mencintai setiap sudut sempit gedung itu
Kemudian aku menemukan
Sebuah alasan
Untuk bertahan
Dengan segenap hati dan kekuatan
Pada suatu pagi perkenalan itu
Kau hadirkan senyum manismu
Kau cium tanganku
Dan berkata, "Selamat pagi, pak."
Sekira sebelas tahun jarak kita
Tapi aku percaya
Bahwa jarak kan ajarkan arti beda
Untuk lengkapi yang tak sama
Segeralah bertumbuh
Dan usaplah peluh
Hadirkan dirimu seluruh
Dan lahirlah utuh
Untuk bangsa, dan cinta kita..
Wates, 23 Juli 2016
Bertatap nanar, bermandikan kenangan
Gedung serasa rumah di hadapan
Sajian lengkap dengan kudapan
Di sana aku habiskan waktu
Mencoba belajar menjadi satu
Belajar mencintaimu
Mencintai setiap sudut sempit gedung itu
Kemudian aku menemukan
Sebuah alasan
Untuk bertahan
Dengan segenap hati dan kekuatan
Pada suatu pagi perkenalan itu
Kau hadirkan senyum manismu
Kau cium tanganku
Dan berkata, "Selamat pagi, pak."
Sekira sebelas tahun jarak kita
Tapi aku percaya
Bahwa jarak kan ajarkan arti beda
Untuk lengkapi yang tak sama
Segeralah bertumbuh
Dan usaplah peluh
Hadirkan dirimu seluruh
Dan lahirlah utuh
Untuk bangsa, dan cinta kita..
Wates, 23 Juli 2016
Langganan:
Postingan (Atom)