Kamis, 21 Juli 2016

Apa Yang Kau Dengar?!

Jalanan sore ini kian ramai. Mereka yang tak kita kenali berlalu lalang dengan tujuan masing-masing. Kita tidak tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka, sebagaimana kita tidak tahu sebaik atau seburuk apa harinya. Lampu jalanan berpendar temaram. Seakan menjelaskan tentang sendu dan kesedihan tentang bergantinya suasana. Tentang kesepian dan kesalahan, sebab takdir yang telah dipilihnya sendiri.

Aku duduk terpaku. Di hadapan layar beku, mematung, menatap pada kekosongan dengan pikiran entah ke mana. Bertujuan sebenarnya. Sebuah berita yang tak pernah terduga, menjadi sebuah kenyataan pahit. Bukan, bukan tentang kisah patah hati atau pun sakit yang ku alami. Tapi tentang orang lain, yang entah mengapa aku merasakan pula perihnya hati.

Hey! Apa sebenarnya yang kau dengar?! Kau tahu tindakan itu salah, kau tahu tentang dosa, dan kau pun tahu tentang batasan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim bukan?! 

Bukan, ini bukan kisahku, pun bukan sebab ku patah hati. Hanya saja ada rasa yang menyesakkan ketika kita tahu seorang yang kau hargai telah disakiti dengan cara yang begitu perih. Terlebih dia pun sadar alami. Aku tak mencintai layaknya kisah adam dan hawa, mungkin sekedar peduli. 

Lalu bagaimana kisahmu akan berakhir? sementara lelaki, atau lebih layak ku sebut banci, yang tak bertanggungjawab itu telah pergi bersama orang lain tanpa rasa bersalah sama sekali. Ke mana lagi akan kau tuju langkah kaki dengan membawa takdir yang tak bisa kau ubah lagi? sekali lagi, aku hanya peduli. Apa yang sebenarnya kau dengar? 

Biarlah waktu kan menghakimi, aku hanya berharap kau sadar dan kembali, pada Tuhanmu, dan bersegera bersibuk diri dengan taubat dan apapun yang kau bisa untuk memperbaiki takdirmu. 

Aku tahu itu menyakitkan, bahkan bagiku yang bukan siapamu. Aku hanya peduli, tak lebih.

Yogyakarta, 21 Juli 2016

Jumat, 15 Juli 2016

Kesempatan

Setiap hari baru yang kita jalani adalah kesempatan. Disadari atau tidak, di masa lalu, mungkin banyak detik yang tidak kita gunakan dengan baik. Padahal seharusnya setiap detik kita berakhir baik. Sampailah pada detik ini, ketika pun saya menuliskan catatan ini entah pada detik ke berapa memulai,  dan sampai detik ini masih bisa melanjutkan, itu adalah sebuah kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki yang telah lalu, kesempatan untuk sesuatu yang baru.

Dalam beberapa waktu, saya menemukan tentang penyesalan yang datang belakangan. Baik itu dari diri pribadi maupun yang saya dapati dari orang lain. Mereka yang bercerita tentang lukanya di masa lalu, ataupun penyesalan yang berkepanjangan karena telah menggoreskan sesuatu. Pun pada diri sendiri, selalu ada penyesalan atas segala sesuatu. Wajarlah, manusia selalu mengejar sempurna, sesekali lupa bahwa ada yang Maha.

Malam ini saya hanya ingin menulis singkat saja. Bahwa hari baru yang kita dapati adalah sebuah kesempatan. Setiap orang pasti punya masa lalu, tetapi ia juga punya masa depan. Biarlah yang lalu menjadi sejarah, dan yang akan datang menjadi sebuah kenyataan yang kita upayakan dari mimpi dan obsesi kita. Baik itu yang berkaitan dengan perbaikan masa lalu, ataupun visi hidup selanjutnya. Tuhan akan selalu membersamai hamba-Nya yang sabar dan percaya, menjadi tangguh berusaha tak mengeluh.

Yogyakarta, 15 Juli 2016

Rabu, 29 Juni 2016

Kota Sendu

Entah sejak kapan, kota ini menjadi penuh dengan nuansa ketika jejakkan kaki di sini. Aku mengenalmu lewat perantara, kemudian kita berbagi cerita. Tak dinyana, kita saling menemukan pelengkap atas kekurangan kita masing-masing. Hidupku, hidupmu, entah takdir macam apa yang menarik kita pada pertemuan yang (nyaris) tak pernah kita sengaja itu.

Setiap kita punya masa lalu, begitu juga dengan kamu dan aku. Kota ini menyiratkan masa lalumu. Dan aku masih mencari jawaban apakah kota ini menyiratkan masa depanku? Entahlah.

Begitu juga sore ini, ketika aku kembali menghampiri kotamu, meskipun sesaat, namun ada nuansa yang begitu kuat. Kotamu menyambut begitu sendu, seakan memaksaku untuk mengingatmu, menghadirkan kembali cerita-cerita kita. Apakah ia hanya hadir sebagai angin lalu? Ataukah sebuah pertanda akan temu dari kesejatian yang satu? Entahlah..

Di sudut gelap ini aku mencari, tentangmu, tentangku, dan arti takdir dari pertemuan kita. Kita telah bersepakat bahwa Tuhan takkan hadirkan seseorang tanpa alasan. Selalu ada rahasia dibalik rahasia. Bagaimanakah akhir kisah kita? Biarlah waktu yang menjadi penentu, tentang arti hadir di antara kita.

Bogowonto gerbong 2: 3B, 29 Juni 2016

Senin, 20 Juni 2016

Pencarian

Ku tulis, ku hapus kembali
Ku tulis lagi, ku hapus lagi
Ada yang hilang: Inspirasi

Ku berlari mencari kopi
Sebagai penguat basa-basi
Tak ada

Selamat! Kau berhasil lagi kali ini
Menghantui sejenak pikiran dan hati
Mengiris logika dan mematikan akal

Entah di mana ku cari kemudian
Kata-kata yang hilang
Seperti kali ini
Ku biarkan jari menari, tanpa henti

Tak tahu, apa yang ku tuju lewat tulisan ini
Aku hanya mencari satu jawaban
Untuk sebuah inspirasi
Dan dua kehendak yang berkaitan

Di hela malam aku merenung
Di mana kan ada jawaban
Jawabnya satu: Tuhan

Yogyakarta, 20 Juni 2016

Rabu, 15 Juni 2016

Cinta

Tidak semua hal perlu definisi.
Alasan untuk pulang ataupun pergi
Tak lelahnya ia mencari, menanti

Dalam santun ia bermakna
Kekuatan besar ia pendam, rapat

Hingga tiba waktunya
Yang sejatinya terikat kan saling melihat
Yang saling mencari kan berhenti
Pada sebuah titik tertentu
Pada waktu yang tepat, dan suasana yang layak.

Saat takdir tunaikan alurnya
Cinta

Yogyakarta, 15 Juni 2016

Kamis, 09 Juni 2016

Silence

Ada yang hilang
Entahlah apa itu
Ada kekosongan
Entahlah apa itu

Mencari
Masih
Terus
Siapa? Tak Tahu

Selasa, 07 Juni 2016

Hujan, kenangan, dan lintasan masa depan

Hujan selalu punya arti lebih.
Seringkali menyiratkan masa lalu,
tak jarang hadirkan lintasan bayang masa depan.
Selayaknya ia hadir sebagai rahmat
Pastilah ada arti, tak hanya secara harfiah

Ketika hadir ia dalam renung, merebak inspirasi
Tak jarang bentuk sesal masa lalu, tak elok terus diratapi
Hujan, bagi sebagian orang ia tak menyenangkan
Tapi bagiku, tidak. Ia adalah inspirasi
Begitulah caraku memaknai hujan sebagai rahmat
Di samping makna rahmat secara harfiah

Hujan, kenangan, dan lintasan masa depan

Yogyakarta, 7 Juni 2016