Minggu, 02 Maret 2014

Hidup tanpa masalah? MIMPI!

"Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan"

Pernahkah kau merasa begitu tertekan dengan berbagai persoalan yang menghimpit?
Pernahkah kau merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia karena berjuta masalah yang tak kunjung usai?
Pernahkah kau merasa bahkan 24 jam yang Allah berikan masih sangat kurang untuk menyelesaikan tuntutan duniawi yang senantiasa menghampiri?

Masalah adalah satu keniscayaan yang akan dirasakan oleh setiap insan. Entah mereka bergerak atau tidak, mereka pasti menemui permasalahan. Hanya memang, bobot persoalannya akan berbeda. Pernah ada seseorang yang berdiskusi dengan saya, beliau mengatakan bahwa besar kecilnya permasalahan akan berbanding lurus dengan kualitas diri kita. Semakin besar kapasitas yang dimiliki seseorang, maka persoalan yang dihadapinya akan semakin kompleks. Pun sebaliknya. Maka, berbaik sangka merupakan langkah awal yang bisa ditempuh dalam rangka menyelesaikan permasalahan.
Disadari atau tidak, masalah sesungguhnya berkaitan erat dengan bagaimana kita mempersepsikan masalah itu sendiri. Tidak sedikit orang yang kemudian terjebak dalam persepsinya sendiri terhadap masalah yang dia hadapi hingga akhirnya sikap yang lahir pun sesuai dengan persepsi itu. Parahnya, manusia lebih mudah untuk membangun persepsi negatif dari pada positif. Katakanlah kita ingin untuk belajar menyetir mobil. Maka apa yang pertama kali terlintas di pikiran anda? sebagian orang mengatakan bahwa yang terlintas pertama kali adalah kecelakan, tilang, dan lain sebagainya yang lebih berkonotasi negatif. Faktanya, banyak orang berkata demikian. Itu tentang persepsi.
Kita kembali pada bab 'masalah'. Sampai saat ini, saya selalu mempercayai bahwa masalah adalah bagian dari cara Allah meningkatkan kapasitas diri kita. Semakin besar masalah yang kita hadapi, maka semakin tinggi kelas kita setelahnya apabila masalah itu berhasil kita lalui dan pecahkan. Adakah orang yang tidak bisa melaluinya? jelas ada. Dan rata-rata, mereka adalah orang yang ternyata dikalahkan oleh persepsi negatif yang terbangun dalam benaknya ketika dihadapkan pada permasalahan. Mereka yang merasa kecil dihadapan persoalan, dan merasa menjadi orang yang paling menderita sedunia karena persoalan itu. Padahal, ketika kita merelakan waktu sedikit untuk menengok pada lembar sejarah, kita akan bertemu dengan referensi yang harusnya membuat kita malu. Bagaimana para pendahulu kita melewati masalah yang mungkin lebih banyak, lebih rumit, dan lebih besar dari yang kita hadapi. Tapi mereka bertahan, dan mereka menjadi pemenang. Maka seperti kata Rendra, bahwa senang dan sedih itu semua orang merasakannya, maka biasa saja.
Allah pun sudah menjanjikan bahwa setelah kesulitan yang kita hadapi, akan ada kemudahan yang mendatangi. Bahkan Allah mengulang janji itu sebagai bentuk penegasan (persepsi penulis) bahwa kesulitan dan kemudahan adalah satu paket dinamika hidup yang Allah sediakan untuk hamba-Nya sebagai manifestasi cinta pada kita. Setiap permasalahan pasti ada solusi untuk memecahkannya, tugas kita adalah menemukan itu. Maka yakin saja pada janji-Nya, kalahkan persepsi negatif dari dalam diri kita sendiri, dan berbuatlah, karena masalah tidak akan selesai begitu saja jika kita hanya diam. Berjuang saja untuk menyelesaikan persoalan, karena itu domain kita. Selanjutnya biar Allah yang menilai dan menentukan hasil karena itulah yang menjadi domain-Nya.

Kamis, 27 Februari 2014

Sebuah Makna

Dan ketika semua sudah kembali pada saat yang ku sebut mula
Maka biarkan jiwa yang bertahta atas raga yang fana
Tidakkah kau tahu? Tidakkah kau mengerti?
Ah, sepertinya kita hanya berperang pada petak yang terlalu sempit
Hingga kita masih bertengkar pada persoalan yang biasa
Bukan, bukan itu yang kita inginkan..

Cerita lama biarlah menjadi sejarah
Ia akan berkisah tentang sebuah konflik indah
Akankah tetap seperti itu? Akankah tetap dengan kata 'aku' dan 'kamu'?
Bukan, bukan itu yang kita inginkan

Jika tiba waktuku, maka aku kan menjelaskan
Maukah kau mendengarkan?
Tentang sebuah aksioma dalam kehidupan
Tentang satu hal yang aku percaya, dan juga kau
Bukankah aku ingin dimengerti? Ya, begitu juga kau
Bukankah kau ingin dimengerti? Ya, begitu juga aku
Ini bukan hanya tentang ideologimu atau ideologiku

Ya, ini rangkaian kata tentang perubahan
Ini deretan makna tentang persatuan
Aku berharap ini tidak hanya menjadi catatan kosong tanpa makna
Ini hanyalah ungkapan jujur yang tak puitis tentang sebuah realita
Aku, kamu, dan perspektif yang menjadi benteng di antara kita


Rabu, 19 Februari 2014

Sebuah Lembar Sejarah Baru

Sebuah tulisan di hari lain yang bercerita tentang kemarin. Malam ini terasa begitu dinamis hingga bahkan aku dikalahkan oleh situasi, dan mau tidak mau aku harus menunda sedikit hasratku untuk kembali berkisah tentang beberapa peristiwa. Ya, menulislah, dan kau akan dikenang oleh sejarah. Pun yang terjadi dengan hari ini, di mana sejarah itu telah siap untuk menuliskan kisah kepahlawanan dari segelintir orang yang berada di dalam kerumunan, yang kemudian kerumunan orang itu bertitah pada jiwanya untuk menjadi pemangku amanah, pelayan masyarakat yang setia. Ini tentang temu perdana Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta 2014, walaupun pada hakikatnya kami sudah bergerak lebih dahulu sebelum ini, ketika Tuhan memberikan cobaan untuk bangsa Indonesia dengan sedikit sentuhan-Nya yang kemudian membuat gunung kelud terbatuk. Aku meyakini ada hikmah dibalik semua peristiwa, dan hikmah yang bisa ku ambil untuk lembaga ini adalah bagaimana Tuhan begitu murah hati untuk membantuku dalam melihat seberapa besar semangat berkontribusi dari pengurus yang baru, serta mensolidkan tim ini dengan cara yang begitu efektif.
Sekitar 70 orang lebih berkumpul dalam satu ruangan yang kental dengan nuansa sejarah yang dibawa oleh para pendahulu kami, dan kini kami mempertegas eksistensi kami dalam sejarah peradaban kampus ini, di tempat ini, sebagai tempat awal kami menjejak. Aula Fakultas Teknik itu menjadi saksi atas usaha sadar kami untuk menyamakan frekuensi, menyatukan langkah, dalam rangka berkontribusi bagi kampus tercinta. Ice Breaking, perkenalan, pemaparan visi misi, hingga framing tentang tugas, fungsi, dan wewenang kami dalam menjalani amanah di tempat yang baru ini. Ya, mayoritas orang yang bergabung bukanlah orang yang berada di sini sebelumnya. Aku berprasangka bahwa mereka adalah orang-orang yang punya semangat belajar tinggi, dan gagasan besar yang ingin diimplementasikan di kampus.

Seperti kata orang, “Life is your own choice, so just be brave to decide and action.” Pada akhirnya kita lah yang akan menentukan jadi apa kita, dan akan bagaimana kita. Adalah suatu kewajaran ketika sebuah persepsi muncul di awal perjumpaan, entah itu positif atau pun negatif. Hanya saja, mencoba untuk tidak terperangkap dalam persepsi negatif yang kemudian hanya mematikan produktifitas menjadi lebih utama untuk kita lakukan. Setiap pilihan pasti mengandung konsekuensi logis. Sadarilah dan hadapilah, maka kita akan mendapati diri sebagai orang yang bersabar dan berbaiksangka terhadap takdir-Nya. Jangan pernah menjadi orang yang dikalahkan persepsi, perangilah dan jadilah pemenang.

Selasa, 30 April 2013

Saatnya Pemuda Bicara!


Sejak dulu hingga sekarang, kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari dunia politik. Politik, dalam level apapun itu, pasti memberikan dampak pada nuansa kehidupan bermasyarakat dan hubungan antar individu. Politik pada level pemerintahan, pasti akan mengeluarkan kebijakan yang imbasnya akan mengenai masyarakat banyak, dan itu mau tidak mau, tidak bisa tidak, akan dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Begitupun politik di level kampus, yang walaupun belum se”horor” politik di level praktis, akan tetapi akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana juga untuk para pelakunya. Dengan kenyataan seperti itu, seharusnya setiap manusia yang terlibat dalam konstelasi kehidupan bermasyarakat menaruh kepedulian yang besar terhadap proses politik yang terjadi di negara ini. Kepedulian itu pula tidak berbasis gender atapun usia. Setiap individu seharusnya memiliki kepedulian yang tinggi pada salah satu aspek kehidupan ini. Tapi, memang pada kenyataannya masih sangatlah jauh dari idealita yang kita harapkan. Masyarakat Indonesia, sebagian besar masih bersikap apolitik dan memiliki paradigma yang melenceng dalam mendefinisikan politik. Gelombang apatisme dan skeptisisme terhadap perpolitikan inilah yang pada akhirnya membuat segolongan politikus yang memiliki orientasi pribadi dan memandang politik sebagai lahan basah bagi pertumbuhan kekayaaannya memanfaatkan ruang itu untuk melandingkan kepentingannya. Dalam perjalanannya, ada segolongan orang yagn sebenarnya memiliki ketajaman intuisi dan menyadari bahwa terjadi sesuatu yang salah dalam konstelasi politik yang ada. Bahwa politik adalah salah satu aspek yang harus dikawal karena akan berpengaruh pada kehidupan orang banyak, golongan itu adalah pemuda. Permasalahannya, dewasa ini, tidak sedikit golongan tua yang memandang bahwa pemuda masih terlalu hijau untuk berbicara tentang politik. Pemuda masih dianggap sebagai anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa tentang konstelasi kehidupan. Pada akhirnya, kita akan menemukan dua variabel permasalahan dari sini, yang pertama adalah permasalahan paradigma negatif sebagian besar masyarakat Indonesia yang berdampak pada menghegemoninya apatisme dan ketidakpercayaan golongan tua pada para pemuda untuk berbicara tentang politik dan berperan di dalamnya, yang dampaknya ruang gerak pemuda untuk mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah semakin terbatasi. Tentunya, permasalahan seperti inilah yang harus kita cari akar permasalahan dan solusinya.
Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang dua permasalahan di atas, kita harus menyamakan frekuensi terlebih dahulu terkait bagaimana kita mendefinisikan politik. Pendefinisian politik itu sendiri akan bergantung pada karakter pemikir dan masyarakatnya. Menurut Joyce Mitchel (1969), dalam Miriam Budiarjo (1978), politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum yang ditujukan kepada seluruh masyarakat. Sedang menurut Karl W. Deutsch (1970), politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana publik. Dari definisi tersebut di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa politik bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencapai kebijakan yang kemudian bertujuan untuk menyejahterakan rakyat. Kemudian, dari unsur-unsur yang terdapat dari definisi politik tersebut di atas, maka harus ada unsur kehati-hatian dalam pengambilan kebijakan karena dampaknya akan dirasakan oleh orang banyak.
Politik, sebagaimana sudah didefinisikan di atas, sesungguhnya adalah sesuatu yang mulia, yang keberadaannya tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa ada pengawalan dalam proses perjalanannya. Namun, pada kenyataannya, mengapa masih banyak yang memilih bersikap apatis terhadap politik? Ternyata, hal ini berkembang dari pemahaman politik yang kurang atau mungkin ada segolongan orang yang kemudian berusaha memunculkan politik dalam wajah yang mengerikan, suram, dan penuh dengan kemunafikan. Cobalah bertanya pada sebagian masyarakat di sekitar kita tentang politik, maka hal-hal pertama yang akan terlintas di pikiran mereka adalah perebutan kekuasaan, kampanye hitam (demarketisasi), korupsi, dan lain sebagainya. Artinya, perncerdasan sosial-politik di masyarakat cenderung kurang bahkan apa yang ditampilkan oleh beberapa media dewasa ini cenderung tidak mencerdaskan. Kesan bahwa politik adalah sesuatu yang mengerikan itulah yang pada akhirnya memunculkan sikap-sikap apatis dan takut untuk berkecimpung di dalamnya, untuk mengkritisi perjalanannya, dan menyampaikan aspirasi pada sang penguasa.
Secercah harapan pun muncul dari kubangan apatisme yang merebak di masyarakat. Ternyata, ada segolongan orang yang disebut pemuda, yang kemudian menunjukkan sisi intelektualnya dengan memberikan komentar, mengkritisi jalannya pemerintahan di era sekarang ini, dan otomatis pembicaraan yang muncul adalah soal politik. Akan tetapi, permasalahan baru pun muncul: golongan tua menganggap pemuda masih terlalu labil dan terlalu hijau untuk berbicara tentang politik. Padahal, pemuda adalah golongan orang yang merupakan aset berharga yang dimiliki oleh suatu bangsa. Golongan tua yang ada saat ini cenderung sudah termakan doktrinasi dari banyak pihak yang akhirnya berujung pada kehidupan yang cenderung bersifat pragmatis. Pemuda adalah segolongan manusia yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan golongan tua. Pemuda, memiliki semangat untuk bersikap kritis. Biasanya, pemuda memiliki idealisme yang kuat terhadap suatu hal, contohnya idealisme pada kondisi suatu negara. Sehingga ketika jalannya pemerintahan dirasa tidak sesuai dengan kondisi ideal suatu negara, maka kencenderungan seorang pemuda adalah mengkritisi dan menyampaikan aspirasinya pada penguasa. Inilah yang kemudian juga dimiliki oleh pemuda, yaitu keberanian. Dengan dukungan idealisme yang kuat yang dimilikinya, pemuda akan mendapatkan energi lebih yang akhirnya termanifestasikan dalam bentuk keberanian, keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Selain itu, pemuda adalah generasi penerus, agen perubahan yang akan menggantikan para pemimpin di negeri ini saat ini. Pemuda lah yang akan memiliki peranan lebih dan kemudian akan naik untuk menata taman Indonesia ini. Konsekuensinya, pemuda harus mendapatkan pendidikan yang memadai terkait politik dan mampu membaca, mencermati, dan mengkritisi arus politik yang terjadi, sehingga ketika yang muda yang memimpin, mereka memiliki pandangan yang cukup dan kreativitas yang luas dalam mengelola negara.
Pada akhirnya, jelaslah sudah bahwa seharusnya, politik bukanlah satu hal yang tabu untuk dibicarakan oleh pemuda. Dengan segala potensi yang dimiliki oleh pemuda, dan visi bahwa politik adalah alat untuk mensejahterakan rakyat dan bukan menjadi tujuan untuk sekedar mencapai tampuk kekuasaan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi, maka sudah waktunya bagi pemuda untuk kembali menatap ke depan dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk menggantikan para pemimpin Indonesia saat ini. Pergantian kepemimpinan adalah keniscayaan, dan konsekuensi dari kefanaan adalah regenerasi, karena tidak ada satu hal pun yang bersifat abadi. Maka sudah sudah jelas, sekali lagi, bahwa yang akan menjadi pemimpin di masa depan adalah pemuda. Sudah waktunya bagi pemuda untuk menjadikan politik sebagai bagian dari kehidupan mereka. Pencerdasan sosial-politik adalah agenda besar yang harus dilakukan oleh pemuda saat ini, terlebih dalam menghadapi momentum besar di tahun 2014. Pemuda harus mampu melihat, mencermati, dan memberi penilaian yang akurat tentang orang-orang yang akan terlibat di dalam panggung politik Indonesia kelak, sebelum akhirnya pemuda itu sendirilah yang akan turun. Pada akhirnya, akan tiba waktunya bagi para pemuda untuk berkata pada golongan tua, “izinkanlah kami terlibat, izinkanlah kami berkontribusi untuk menata taman Indonesia, dan akan kami buat kalian tersenyum sebelum senja tiba.”

Referensi:
Sudarsono, Amin, Ijtihad Membangun Basis Gerakan (Jakarta: Muda Cendekia, 2010)

Jumat, 21 Desember 2012

Takdir itu pun memilihku..

Dan akhirnya sejarah akan melahirkan tokoh-tokoh dalam masing-masing periodisasinya.
Pemilwa di kampus ungu baru saja berakhir, dan (seharusnya) hari ini adalah penetapan dari orang yang kemudian terpilih sebagai pengayom bagi kampus budaya ini.

Kebanggaan...ya..
Kebahagiaan..ya..
Semuanya bercampur, menyambut kemenangan yang sudah lama dinantikan.
Di saat semuanya merasa termarginalkan. Setelah semuanya merasakan kegelisahan yang sama tentang masa depan kampus yang sangat kami cintai ini, akhirnya malam itu menjawab semuanya, 19 Desember 2012, nyaris tengah malam.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku yang harus menceburkan diri ke dalam lumpur itu.
Untuk berjibaku dengan para "korban" secara langsung, bergesekan, berdampingan langsung dengan mereka.
Aku meyakini bahwa biar bagaimana pun aku tetap tergabung dalam satu tim yang sama2 menginginkan kebaikan untuk kampus ungu. Ya, aku tak sendiri.
Uraian air mata itu menjadi saksi atas keputusan yang telah diambil oleh tim, untuk kemudian memajukanku (lagi) untuk bertempur di pemilwa. Masjid itu menjadi saksi.

Berat..
Itu yang ku rasa, seperti gunung2 dan bumi yang menolak untuk menggenggam satu hal yang ku sebut dengan amanah. Ya, amanah. Menjadi perwajahan bukanlah satu hal yang simple. Aku pernah merasakannya sehingga aku memahami betul apa yang nantinya akan ku hadapi. Konstelasi apa yang akan ku hadapi. Tapi kami bertahan.

Dan akhirnya pertempuran itu pun dimulai.
Pertempuran yang bahkan tak semuanya menginginkannya. Bagiku, ada yang jauh lebih indah ketimbang bertempur sebagai dua kubu. Sinergitas, menghentikan pertikaian yang sepertinya memang sudah cukup lama terjadi dan entah mengapa kemudian dianggap menjadi pewarisan dosa. Tapi apalah daya, mereka tak mau mengerti.
Semangat juang itu ku rasakan lewat dukungan dari sahabat-sahabatku, bagaimana mereka menyiapkan berbagai atribut ketika aku terkapar tak berdaya saat akhirnya tubuh ini tak mampu menjadi munafik lagi. Bagaimana kemudian masing2 individu menyadari apa yang menjadi tugas mereka dan apa yang menjadi tujuan besar yang kami usung, gagasan besar. Saat itulah semangatku kembali pulih..malam sebelum debat antar calon.

Perdebatan..
Dua calon sudah berada dalam satu arena untuk menyampaikan apa yang kemudian menjadi visi yang diusung untuk kampus ini ke depan. Aku vs rival politikku, yang bernama armada. Ku pikir kedudukan hampir berimbang, tak ada satu pun dari kami yang mempunyai status sebagai ketua ormawa, sehingga akhirnya kekuatan retorika lah yang akan menjadi penentu kemenangan hati atas banyak banyak orang.
Aku pasrah. Aku merasa bukanlah orang yang mempunyai retorika sebagus bung karno atau pun bung tomo, tapi aku memiliki apa yang diwariskan mereka, semangat juang. Memperjuangkan kepahaman, bukan memperjuangkan doktrin-doktrin palsu yang hanya didasarkan pada sentimen gerakan.

Dan akhirnya hari penentuan tiba, saat semua suara sudah terkumpul. Berharap tak mengulangi apa yang terjadi tahun lalu, saat ku berada di posisi yang nyaris sama dan harus menerima kenyataan untuk berada di bagian tawa dan cemooh semua orang.
Aku adalah orang yang tak mau putus asa. Jika memang nantinya harus kalah, lebih baik mundur dan dilupakan kemudian kembali pada kolam yang lebih besar. Tapi sepertinya takdir berkata lain. Suara demi suara dihitung dan di luar dugaan aku memenangkan empat TPS dan hanya kalah di satu TPS yang menjadi basis massa mereka, itu pun kalah tipis saja, 3 suara.

Menang..
Setelah berjuang selama 3 tahun, akumulasi dari perjuangan yang tak kenal henti, dengan darah dan air mata akhirnya pkm lantai 2 menggema dengan tangis bahagia dari tim yang telah memperjuangkan kemenangan ini sejak lama. Yang sudah mendambakan kemenangan atas keadilan dan kebenaran, bukan menang untuk menyingkirkan yang lain. Aku, terpilih untuk menjadi ketua bem fbs 2013...
yang jelas ini bukanlah kemenangan pribadi. Ini adalah kemenangan tim, karena setiap orang melaksanakan fungsi dan lingkar pengaruhnya dengan luar biasa. Dan akhirnya derajat kepantasan itu kita raih, dan ujian selanjutnya siap menjelang..

Sejarah akhirnya berulang..pada 2 generasi berbeda..


Indah pada waktunya,
LIMUNY LOUNGE, 16.41

Kamis, 06 Desember 2012

Dari Sudut ini Aku Memandang

Kembali lagi berhadapan dengan layar ini.
Tempat ku tumpahkan semua rasa yang membuncah dan merengek-rengek untuk dituangkan ke dalam tulisan sederhana di lembaran ini.
Yah, tulisan sederhana. Yang aku berharap dari tulisan-tulisan itu bisa memberikan dampak positif untuk lingkungan, dan membiarkan apa yang pernah ku alami menjadi terkenang.
Aku memulai menulis seperti ini ketika terinspirasi dari diary seorang aktivis di masa lalu yang kemudian menjadi terkenang, bahkan setelah puluhan tahun kehidupannya. Soe Hok Gie.
Diary yang dia tulis bukan sekedar diary yang berisikan catatan galau dari seorang mahasiswa yang menapaki jalan dengan identitas baru, tapi dia menuliskan tentang realitas sosial yang kala itu dihadapinya.
Dia adalah seorang pemberontak, itu iya. Tapi dia adalah seorang yang berani meyuarakan apa yang menjadi idealismenya. Itulah yang kemudian menjadi inspirasi bagiku ketika akhirnya aku pun harus menjalani kehidupan yang (nyaris) sama dengannya. Sebagai mahasiswa, yang mungkin menyandang gelar aktivis yang dewasa ini justru dipandang rendah oleh sebagian besar orang. Ya, terlepas dari perbedaan ideologi antara aku dan soe hok gie, tapi dia cukup menginspirasi.

Cukup, bukan tentang soe hok gie yang ingin ku tuliskan hari ini.
Aku hanya ingin mengungkapkan sesuatu tentang kampusku. Tentang situasi, yang kian hari makin menggelikan. Sekarang sudah bulan desember dan semarak pergantian pemimpin di lembaga intra kampus atau yang biasa kami sebut dengan ormawa makin menarik perhatian mahasiswa umum dengan maraknya pamflet dan spanduk berisikan pasangan mahasiswa yang mencalonkan diri. Perang propaganda pun makin menarik untuk diperhatikan, dari mulai yel-yel ala mahasiswa yang berbau psy war, yah, yel-yel yang tentu saja bermuatan politis. Aku bukan orang yang anti pemilwa, bahkan aku sempat terlibat langsung tahun lalu, sebagai orang yang berjuang untuk sebuah idealisme di percaturan politik kampus di fakultasku. Sayang, belum beruntung. Bagiku pemilwa bukanlah sekedar permainan yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa yang kemudian membentuk Komisi Pemilihan Umum, tapi pemilwa adalah salah satu bentuk pembelajaran kita untuk hidup dalam dunia yang menggunakan sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahannya. Pemilwa akan membelajarkan kita tentang pentingnya memilih pemimpin yang tepat, karena pemimpin yang terpilih akan benar-benar memiliki kekuasaan yang (nyaris) absolut untuk menentukan arah gerak keormawaan ke depan. Dari tahun ke tahun, wacana yang dibawa nyaris selalu sama, tentang multikulturalisme (entah pada akhirnya bisa diterapkan dengan sempurna atau tidak) dan perbedaan ideologi. Pikiranku selalu berbisik bahwa perbedaan adalah satu keniscayaan ketika kita terlahir di dunia ini, bahkan kita bisa melihat perbedaan dari hal yang paling kecil sekalipun, perbedaan wajah.
Dan multikulturalisme yang aku mengerti adalah satu paham yang mennghargai keberbedaan itu, bukan kemudian memaksakan semuanya untuk menjadi sama. Dengan begitu, ketika sudah mengakui bahwa manusia di kampus itu multikultur, seharusnya semuanya dapat diakomodir. Toleransi.
Tapi aku tidak memandang seperti itu yang terjadi di kampusku, kampus ungu.
Masih ada satu entitas yang keberadaannya nyaris tidak dianggap, bahkan bisa dikatakan sudah menjadi satu entitas yang termarginalkan di fakultas. Padahal entitas itu sudah berusaha untuk menjalin komunikasi, mencoba untuk berkontribusi, dan mencoba untuk selalu menjadi yang pertama pergaulan. Tapi entah mengapa, konsep multikultural yang diusung penguasa di kampus ungu ini seakan tidak dirasakan oelh entitas itu, entitas yang aku tergabung di dalamnya. Ku pikir ini bukanlah sekedar perbedaan ideologi, ini lebih kepada sentimen dan prasangka yang selalu dituduhkan kepada entitas itu. Selalu dianggap membawa kepentingan yang berbau politis, padahal secara tidak sadar yang mereka lakukan juga adalah kepentingan dan itu juga politis. Sepertinya kita memang masih harus belajar banyak tentang definisi politik atau kepentingan politis. Bagiku politik adalah jalan, bukan tujuan. Kekuasaan bukanlah tujuan, itu adalah jalan. Esensi dari politik adalah usaha untuk memberikan manfaat lebih untuk orang-orang yang tercover oleh kekuasaan politik itu, intinya lebih pada pensejahteraan. Itulah yang membedakan politik yang kami percayai dibandingkan dengan konsep politik barat yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, jika begitu maka yang terjadi adalah hukum rimba, yang kuatlah yang akan menang dan kemudian menjadi rezim yang sempat dialami oleh Mesir pada pemerintahan Husni Mubarak.
Dan begitulah yang terjadi tentang politik kampus di fakultas ini, pertarungan antara dua entitas besar yang mungkin orang lain akan memandang ini pertarungan ideologi. Permasalahannya adalah sejauh yang ku perhatikan sampai saat ini, sebagian besar orang yang mengaku bertentangan dengan entitas yang ku pegang saat ini adalah orang-orang yang taklid dan hanya mengikuti apa yang dikatan oleh senior-seniornya saja, mereka hanya orang yang kemudian menelan mentah-mentah doktrin yang diberikan pada mereka tanpa mencoba untuk menilai dan memberikan penilaian yang lebih objektif tentang entitas ini.
Miris, memang. Disaat entitas ini mencoba untuk memberikan kebermanfaatan dan berbaur dengan entitas yang dikatakan sebagian besar orang bertentangan, justru mendapatkan penolakan dan kecurigaan yang tak ada habisnya.
Mungkin memang membutuhkan jalan pendekatan yang berbeda.

Begitulah, tentang kampusku, tentang dinamikanya, dan tentang cerita di dalamnya. Pendaftaran calon pemimpin fakultas memang sudah dimulai sejak senin lalu, tapi baru ditutup jumat besok. Otomatis, nuansa khas pemilwa yang membawa perang propaganda belum dimulai dengan keras. Mudah-mudahan bisa menjadi pembelajaran untuk berpolitik bagi semua pihak yang terlibat, pada esensinya semuanya adalah bersaudara, dan sama-sama memiliki kewajiban untuk saling menasihati dalam kebaikan, perkara menjadi rival, itu hanya pada ranah politik saja, karena perbedaan ideologi adalah satu keniscayaan.

Mungkin dalam waktu dekat aku akan menulis kembali tentang hal ini, tentang perkembangan terakhir dari situasi pemilwa yang biasanya mulai memanas menjelang hari H pemilihan..

Di luar mulai gerimis.
LIMUNY LOUNGE, 6 Desember 2012 11.03 am

Kamis, 22 November 2012

Hujan (lagi)...

Di sudut ruangan ini aku terduduk diam..
Hanya menatap layar yang kian gencar menampilkan informasi yang aku pilih, aku inginkan..
Dan pelan tapi pasti, kaca jendela memberikan visualisasi yang berbeda tentang situasi di luar ruangan ini..
Hujan..
Semakin lebat..
Dan semakin deras..
Entah sudah berapa lama aku tak bertegur sapa dengan hujan, entahlah, mungkin 1-2 bulan..
Tapi bukan berarti aku tak merasakan kehadirannya selama ini..
Hanya saja, aku hanya sekedar tahu kehadirannya tanpa merasakan romantisme yang aku rasakan saat ini..
Kembali bertegur sapa dan merasakan belaian anginnya yang menjadi dingin..
Merasakan pelukannya yang membawa kesegaran dan perasaan damai..

Hujan...
Sejak dulu hingga sekarang selalu membuka tentang nostalgi, tentang kenangan..
Karena di dalam hujan ada cerita, di dalam hujan ada bahasa yang hanya bisa diungkap dengan senyum..
Seperti yang terjadi dahulu, kala hati masih terpaut pada kematian dalam hidup..
Yah, hidup yang hampa, kosong tak bermakna..
Hidup yang hanya sekedar hidup, tanpa tau esensi dari kehidupan itu sendiri..
Kisahku, dengan mereka, dengannya...tentang persahabatan, kesetiaan, tawa, sedih, bahagia, dan cinta..
Sepenggal kisah masa lalu yang selalu dibawa kembali oleh hujan, di mana pun aku berada..
Dan dari sana ku belajar tentang sebuah kesalahan..
Tentang sebuah kebenaran yang aku tahu, tapi tak kugubris dengan sepenuh hati..

Hujan..
Membuka kembali luka lama yang sempat menganga..
Menghadirkan lagi cinta yang tlah lama hilang, terpendam..jauh...
Karena lewat hujan semuanya berawal..
Lewat hujan juga semuanya berakhir...
Tentang cinta yang terhidupkan, dan cinta yang kemudian mati..

Masih tentang cinta,,
yang semu, yang menggelapkan mata tanpa ampun,...
Yang makin menjauhkan pada cinta yang hakiki...
Dan hari ini, inilah aku..
Dengan segala perubahan, dengan segala penyesalan..
Tentang semua kesalahan di masa lalu, tentang semua kenangan di masa lalu..
Tidak semuanya salah, namun tidak semuanya juga dapat dibenarkan..
Dulu, aku memandang cinta hanya pada makna yang sempit..
tentang hati dua insan yang berbeda gender, tapi ternyata cinta tidaklah sesempit itu..
Reduksi makna..

Semakin deras..
Lagi2 hujan deras memang membawa kenangan lebih untukku..
Di suatu tempat yang memperjelas tanya..
Yang menjadi saksi bisu kemenangan nafsu atas hati yang beku..
Di sana aku melihat harapan, melihat kembalinya cinta lama yang tlah hilang..
Tapi lagi-lagi dari sana aku belajar..
Bahwa berharap pada makhluk adalah kekecewaan, bahwa ada yang salah pada perjalanan itu..

Kini, di sinilah aku terdiam, duduk..
Masih menatap ekspresi yang ku ungkapkan lewat sarana, gelombang untuk ku bicara..
Tentang hujan, tentang nostalgi, dan tentang kesalahan yang aku tak ingin orang lain melakukannya..cukup aku..
Perjalanan hidup adalah satu hal yang misterius, kadang kita takkan bisa membayangkan jadi apa kita 1 atau 2 tahun mendatang..
Begitupun aku..
Tak terbayangkan kehidupan inilah yang ku jalani..
Perjuangan, dan pengorbanan..
yang dilandasi dengan orientasi yang jelas, yang paling tepat..
dan kemudian menyadari kesalahan di masa lalu..
yah..sebaik-baik manusia pasti punya masa lalu..
dan seburuk-buruk manusia masih punya masa depan..

Lembaran baru adalah tempat di mana kau menuangkan asa, dari pelajaran masa lalu..pahit atau manis...

Masih dalam belaian hujan,
LIMUNY LOUNGE, 22 November 2012 11.40 am